kebocoran minyak pertamina

Denda Rp10 Triliun akibat Kebocoran Minyak di Laut Jawa

Surgaikan.com – Sudah hampir 1 bulan lebih musibah dari pertamina di Laut Jawa. Pengeboran minyak lepas pantai yang dilakukan awalnya mulus. Kini menjadi musibah skala besar. Tidak hanya itu, banyak skali pihak-pihak yang dirugikan, Selain dirasakan oleh manusia, tentunya musibah itu dirasakan pula oleh lingkungan. Seiring berjalannya waktu. Pertamina terus melakukan kegiatan untuk meminimalisir dampak tersebut.

Selama hampir satu bulan nelayan tidak dapat melaut. Laut yang sering dijadikan sebagai tempat mencari nafkah kini tercemar. Perncemaran tersebut dikarenakan oleh kebocoran pipa minyak pertamina di tambang tengah Laut Jawa. Pencemaran minyak saat ini sudah mencapai 2 desa di Bekasi dan 6 desa di Karawang. Memang kerusakan yang ditimbulkan oleh kilang minyak di tengah laut beresiko tinggi. Sehingga diperlukan skill yang kompeten dan perhitungan yang tepat untuk melaksanakannya.

Akibat yang ditimbulkan, banyak sekali mata pencaharian masyarakat dipesisir terhambat bahkan terhenti. Menurut Setya dalam Kompas.com, Senin (5/8), terdapat tambak garam dari 15 kelompok petani pada daerah tersebut yang disinyalir tercemar. Pihaknya akan segera melakukan pengujian terhadap garam-garam yang terindikasi. Data KKP, sedikitnya ada 1.636,25 hektare tambak udang, bandeng, rumput laut, dan garam di delapan desa di Karawang terkena efek dari tumpahan minyak ini. Beberapa petambak mengalami gagal panen dan sebagian lainnya memanen lebih dini untuk mengurangi resiko. Selain komoditas yang ada didarat. Komoditas ikan tangkap. Khususnya nelayan juga terkena dampaknya.

Baca Juga : Ketahui Bahaya Amonium/Amonia di Perairan

kebocoran minyak pertamina
Sumber Foto : www.pikiran-rakyat.com

Beberapa nelayan atau petani yang sekarang masih menganggur. Pertamina memperkerjakan mereka untuk menjadi penyaring minyak mentah di laut dengan upah dan keselamatan kerja yang minim. Ada beberapa yang bekerja untuk mengumpulakn pasir-pasir yang terkena minyak untuk ditampung oleh Pengolah limbah. Pasir tersebut akan diproses lebih lanjut karena termasuk limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) untuk dimusnahkan.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Pertamina, bersama warga terus mengumpulkan pasir pantai di delapan desa tersebut yang tercemar minyak. Selain itu, dilansir kontan.co.id mengatakan bahwa KLHK menggugat pertamina dengan nilai yang fantastis mencapai Rp 10.15 Trilliun atas pencemaran tersebut. Dari nilai gugatan ganti rugi lingkungan hidup yang mencapai Rp 10,15 triliun itu, penggugat merincinya untuk tiga hal. Pertama untuk jasa ekosistem Rp 9.962.579.929.200. Kedua, untuk biaya pemulihan Rp 184.055.020.000. Adapun yang ketiga adalah untuk biaya penyelesaian sengketa lingkungan hidup senilai Rp 868.627.805.

Baca juga : Pentingnya Pengaruh pH atau Derajat Keasaman di Perairan

kebocoran-minyak
Sumber Foto : www.pikiran-rakyat.com

Sampai hari ini, artikel ini dibuat. Pertamina masih terus melakukan penyeterilan limbah di laut. Bekerja sama dengan para nelayan, pekerja lepas dan para TNI setiap hari. Memang kejadian kebocoran kilang minyak lepas pantai membutuhkan waktu yang lebih lama.

Semoga saja ada pelajaran yang dapat diambil dari kejadian ini. Meskipun manusia adalah tempatnya salah. Kita harus tetap behati-hati. Karena kesalahan sekecil apapun. Terkadang bukan kita saja yang merasakan. Namun, semua orang disekitar akan terkena dampaknya. Semoga pencemaran di Laut Jawa segera teratasi. Agar masyarakat pesisir dapat melakukan kegiatan dibidang perikanan seperti biasa. Sekian. Smoga bermanfaat. Salam sukses.

SILAHKAN BAGIKAN KE TEMAN ANDA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *